petrichor

Anda pernah mencium bau tanah ketika hujan baru turun?
Aroma teduh, aroma pengingat bahwa butir-butir air mulai turun. Aroma hujan, begitu saya menyebutnya. Aroma yang terus mengingatkan saya pada masa itu, tiap kali saya menciumnya, sampai detik ini.
Namanya petrichor.
Berasal dari bahasa Yunani, petros (batu) dan ichor (air). Apapun istilahnya, anda pasti pernah menghirupnya. Sengaja ataupun tak sengaja.
Begitu pula saya. Tak jarang, memori saya terpanggil kembali setelah mendengar stimulasi dari telinga. Ya, namanya musik.
Atau dari penglihatan kedua mata saya. Tapi sangat jarang terjadi bila kenangan terpanggil kembali dari rangsangan hidung.
Dan itulah indahnya petrichor. Aroma tanah bercampur air hujan, yang kata ibu saya adalah bau debu yang terbang karena terhantam butiran air,
menghidupkan banyak gambaran masa lalu di kepala saya.
Tanah seperti pasrah pada hujan. Ketika rintik-rintik hujan mulai turun, dirinya akan terhambur terbawa udara. Melayang-layang, sebelum kemudian dihantam oleh butiran hujan lainnya. Jika beruntung, ia menyeruak cukup tinggi, menggapai hidungku. Merasuk ke dalam. Menciptakan sensasi istimewa.Terpesona
Aku, ingin menjadi petrichor bagimu.Cool
Penanda bahwa hari keringmu telah usai, dan akan
segera berganti dengan rintikan hujan yang menenangkan. Penghapus debu di kehidupanmu, dan membasahinya lagi setelah sekian lama. Penanda betapa butiran hujan telah siap melembutkan dirimu, menyejukkannya setelah sekian lama. Mengingatkanmu untuk berteduh, karena hujan akan segera datang. Atau justru membuatmu keluar, berlari ke tengah hujan, dan menari.
Dan kita akan larut bersama, dalam hujan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *