Mental Model

Si Aco (bukan nama samaran, bukan juga namaku) benci sekali sama polisi. Sedangkan si Baso (bukan nama si Aco) justru senang kali sama polisi. Mereka sering kali ribut kenapa si Aco benci polisi padahal menurut si Baso polisi itu keren, gagah, punya pistol dan punya peluit (kalo ini tukang parkir pun punya).

Kalo Aco liat polisi di jalan, dia pasti mutar balik dan pergi menjauh. Sementara kalo Baso liat polisi, dia akan senyum dan menyapa dengan ramah. Usut punya usut, Aco benci sama polisi karena dia pernah pacaran sama polisi dan dia ditipu serta diselingkuhi (ingat ya, polisi, bukan polwan). Baso senang kali sama polisi karena dia pernah dijambret dan pada waktu itu ada polisi yang lewat dan nolong dia. Akhirnya mereka jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya (sorry sorry, bukan kekgini maksudnya).

Pengalaman dengan polisi yang berbeda membuat Aco dan Baso punya persepsi yang juga berbeda terhadap polisi. Perbedaan persepsi inilah yang juga menyebabkan perbedaan tindakan bila melihat polisi. Karena sejatinya, tindakan yang kita lakukan dipengaruhi oleh persepsi kita.

Kedua orang di atas mempunyai kacamata yang berbeda dalam melihat polisi. Kacamata yang berbeda menimbulkan persepsi yang berbeda. Kacamata atau bagaimana kita “melihat” sesuatu itulah yang disebut mental model.

Peter Senge dalam bukunya The Fifth Discipline menjelaskan kalo mental model adalah semua asumsi, generalisasi, bahkan gambaran yang tersimpan kuat dalam pikiran dan perasaan yang mempengaruhi segala tindakan, perilaku dan pandangan tentang kehidupan dan dunia pada umumnya.

Semua asumsi, generalisasi dan gambaran itu dipengaruhi berbagai macam hal, terutama pengalaman, norma dan wawasan. A tidak suka durian karena pernah dilempari durian sama anak kampung sebelah (pengalaman). B tidak suka durian karena nilai di masyarakatnya meyakini bahwa durian itu adalah buah setan sebab mengandung alkohol (norma). C tidak suka durian karena pernah membaca sebuah tulisan yang memaparkan efek buruk durian (wawasan). D tidak suka durian karena A, B dan C semua benar. (ujianG kapanG).

Pengalaman, norma dan wawasan ini bisa dirangkum sebagai informasi yang masuk dan terpatri sangat mendalam di benak kita. Mental model dibentuk oleh informasi yang kuat sehingga mampu mempengaruhi cara kita melihat dunia. Informasi yang lemah dan mudah dilupakan tentu pengaruhnya juga lemah terhadap mental model.

Jadi jelas sekarang, kacamata apa yang kita gunakan melihat dunia dipengaruhi oleh informasi yang diterima oleh otak. Lingkungan kita, buku yang kita baca, acara televisi yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, koran yang kita baca, akun yang kita follow, sosok yang kita idolakan, hingga merk celana dalam yang kita gunakan bisa saja mempengaruhi mental model kita. Waspada dan berhati-hatilah.

Oke, back to intro. 😀 Aco benci polisi karena informasi yang diterima otaknya membuat ia membenci polisi. Aco pernah ditipu sama polisi. Apakah semua polisi penipu? Belum tentu (salah). Apakah polisi akan selalu buruk di mata Aco? Belum tentu. Intinya ada di informasi yang diterima otak.

Untuk memperbaiki citra polisi di mata Aco, Aco membutuhkan informasi kuat yang dapat mengubah mental model-nya terhadap polisi. Bisa berupa pengalaman yang baik atau apapun yang dapat mempengaruhi “kacamata”nya. Apakah seorang polisi yang berkoar mengatakan “Dak semua polisi penipu bro. Kenali dulu lah orangnya!” kepada Aco bisa mengubah itu? Belum tentu. Aco butuh informasi yang lebih kuat daripada itu.

Jadi buat kalian anggota DPR yang lelah dicap sebagai tukang tidur, tukang nonton video bokep, tukang berantam, tukang makan uang rakyat dan tukang-tukang yang jelek lainnya, dak usah ribut bilang “Anda tidak bisa menyama-ratakan. Dak semua anggota DPR kyk begitu.” Informasi kuat dan bertubi-tubi kami terima seperti itu hampir setiap hari dari televisi, koran, twitter dan media lainnya. Lakukanlah sesuatu yang bisa jadi informasi kuat untuk mengubahnya. Atau bungkam media itu (Serasa Orde Barunya #Soeharto, haha ).

Begitu juga utk hal-hal, individu atau kelompok lainnya yang “terlanjur” dicap buruk oleh masyarakat, jangan ribut membela diri. Lakukan sesuatu untuk mengubah kacamata, asumsi dan persepsi kami tentang kalian. Lakukan sesuatu untuk mengubah mental model kami.

Front Pembela Islam yang setiap hari menjadi subjek berita-berita buruk di berbagai media, kalian masih punya kesempatan. Koruptor yang wajahnya menghiasi berita televisi dan headline surat kabar, kalian masih punya kesempatan. Orang-orang yang bermimpi menjadi presiden dengan melakukan hal-hal bodoh, kalian masih punya kesempatan. Presiden yang sibuk pencitraan biar albumnya laku, anda masih punya kesempatan. Semua orang, lembaga dan atau kelompok yang sudah merusak namanya sendiri dengan lelucon-leluconnya, kalian masih punya kesempatan. Semua masih punya kesempatan. Lakukan sesuatu untuk mengubahnya.

Dan kami juga selalu punya kesempatan untuk tak mengubahnya. Hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *